Untuk pertama kalinya, orang dalam istana menjelaskan masterplan Prabowo secara terbuka. Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkap kerangka berpikir di balik berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo yang selama ini tampak berjalan terpisah. Fondasi utamanya bukan dimulai dari Danantara atau investasi, melainkan dari tiga pilar yang diyakini menjadi syarat Indonesia menjadi negara maju: ketahanan pangan, ketahanan energi, dan kualitas sumber daya manusia. Penjelasan ini untuk pertama kali menghubungkan MBG, swasembada pangan, hilirisasi energi, Sekolah Rakyat, dan Danantara dalam satu kerangka besar menuju Indonesia 2045.
Konteks Isu: Banyak Program, Belum Ada Narasi yang Mengikat
Selama berbulan-bulan terakhir, publik Indonesia disuguhi berbagai program besar pemerintah yang muncul hampir bersamaan: Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, swasembada pangan, hilirisasi industri, penguatan energi nasional, hingga pembentukan Danantara. Namun di tengah derasnya arus kebijakan tersebut, satu pertanyaan terus muncul di ruang publik: apakah semua ini bagian dari strategi besar yang saling terhubung, atau sekadar kumpulan program yang berjalan sendiri-sendiri?
Pertanyaan itu mulai mendapatkan jawaban ketika Dony Oskaria tampil dalam podcast Bukan Kaleng-Kaleng dan menjelaskan secara terbuka cara berpikir yang menurutnya menjadi fondasi berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Tiga Pilar Masterplan Prabowo: Pangan, Energi, dan SDM
Yang menarik, penjelasan Dony tidak dimulai dari Danantara, investasi, atau BUMN. Ia justru dimulai dari satu gagasan mendasar: Indonesia tidak bisa menjadi negara maju tanpa membangun tiga fondasi utama secara bersamaan.
Fondasi Pertama: Ketahanan Pangan
Dony menjelaskan bahwa pemerintah melihat ketahanan pangan sebagai fondasi pertama yang harus diperkuat. Berbagai kebijakan yang selama ini terlihat terpisah sebenarnya saling berhubung: program cetak sawah baru, pembangunan irigasi, penurunan harga pupuk, perlindungan lahan pertanian, hingga kebijakan harga gabah. Seluruhnya diarahkan pada tujuan yang sama, yaitu menciptakan swasembada pangan yang berkelanjutan.
Fondasi Kedua: Ketahanan Energi
Dalam masterplan Prabowo yang diuraikan Dony, ketahanan energi dipandang sebagai syarat mutlak bagi negara yang ingin menjadi maju dan berdaulat. Berbagai proyek yang sedang didorong, mulai dari pengembangan energi baru dan terbarukan, pembangunan infrastruktur gas rumah tangga, program B50, hingga hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), merupakan bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
International Energy Agency mencatat bahwa negara dengan tingkat ketergantungan energi tinggi terhadap pihak luar cenderung lebih rentan terhadap gejolak geopolitik dan krisis ekonomi global (IEA). Krisis energi Eropa pasca perang Rusia-Ukraina menjadi contoh nyata bagaimana ketahanan energi menentukan daya tahan ekonomi sebuah negara.
Fondasi Ketiga: Kualitas Sumber Daya Manusia
Bagian paling menarik dari penjelasan Dony adalah reframing terhadap MBG. Selama ini program ini diperdebatkan dari sisi anggaran. Dony menawarkan perspektif yang berbeda: MBG tidak dirancang sebagai program bantuan semata, melainkan sebagai investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa angka stunting nasional masih berada di kisaran 22 persen, terlalu tinggi bagi negara yang ingin menjadi negara maju. Studi dalam jurnal The Lancet menunjukkan bahwa investasi gizi pada anak merupakan salah satu bentuk investasi publik dengan tingkat pengembalian sosial tertinggi. Anak yang memperoleh nutrisi yang baik cenderung memiliki kemampuan belajar lebih tinggi, kesehatan lebih baik, dan produktivitas ekonomi lebih besar saat memasuki usia kerja. Program MBG dengan demikian bukan hanya berbicara tentang makanan hari ini, melainkan tentang kualitas tenaga kerja Indonesia dua puluh tahun mendatang.
Pertumbuhan yang “Artificial”: Diagnosis Ekonomi yang Menjadi Titik Berangkat
Dony mengungkapkan bahwa pemerintah melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran lima persen selama ini memiliki kelemahan mendasar. Pertumbuhan tersebut dianggap belum cukup merata dan belum cukup kuat untuk menopang cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Ia bahkan menyebut pertumbuhan tersebut sebagai pertumbuhan yang cenderung “artificial” karena terkonsentrasi pada sektor dan kelompok tertentu, sementara kelas menengah mengalami tekanan dan jumlah masyarakat rentan masih cukup besar.
Pandangan ini sejalan dengan laporan World Bank mengenai Inclusive Growth yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai pemerataan produktivitas dan peningkatan kualitas sumber daya manusia cenderung sulit bertahan dalam jangka panjang. Banyak negara mampu tumbuh cepat selama satu atau dua dekade, namun gagal keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah karena tidak membangun fondasi yang cukup kuat.
Masterplan Prabowo dalam Perspektif Long-Term State Building
Dalam ilmu kebijakan publik, pendekatan seperti yang diuraikan Dony dikenal sebagai long-term state building. Ekonom pembangunan Dani Rodrik menjelaskan bahwa negara yang berhasil melakukan transformasi besar biasanya memiliki kemampuan menghubungkan berbagai kebijakan sektor menjadi satu agenda pembangunan nasional yang konsisten. Tantangan terbesarnya bukan hanya menjalankan program, tetapi juga menjelaskan kepada masyarakat mengapa program tersebut perlu dilakukan.
Dari sudut pandang ini, berbagai program yang selama ini tampak terpisah mulai terlihat sebagai bagian dari satu desain besar. Sekolah Rakyat, distribusi smartboard ke sekolah-sekolah, MBG, swasembada pangan, hilirisasi energi, hingga pembentukan Danantara semuanya diarahkan pada satu tujuan: membangun fondasi Indonesia menuju 2045.
Tantangan Komunikasi: Ketika Strategi Besar Tidak Tersampaikan
Di sinilah letak pentingnya kemunculan Dony Oskaria dalam podcast Bukan Kaleng-Kaleng. Untuk pertama kalinya, publik tidak hanya mendengar penjelasan mengenai satu program tertentu, tetapi mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai cara pemerintah melihat masa depan Indonesia.
Dony sendiri mengakui bahwa banyak program tersebut masih menghadapi tantangan implementasi dan belum berjalan sempurna. Ia bahkan menegaskan bahwa kritik publik tetap diperlukan untuk memastikan proses transformasi berjalan dengan baik. Namun menurutnya, kritik yang konstruktif akan lebih efektif jika masyarakat memahami terlebih dahulu dasar pemikiran yang melandasi kebijakan tersebut.
Tantangan komunikasi pemerintah di sini adalah memastikan narasi masterplan ini tidak hanya tersimpan dalam penampilan publik yang langka, tetapi dikomunikasikan secara konsisten dan dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Ketika publik memahami kerangka besarnya, perdebatan tentang program individual akan bergeser dari pertanyaan “untuk apa program ini?” menjadi “bagaimana memastikan program ini berjalan efektif?”
Kesimpulan Analitis: Untuk Pertama Kali, Kerangka Besarnya Terlihat
Apakah seluruh strategi masterplan Prabowo menuju 2045 ini akan berhasil? Tidak ada yang bisa menjawabnya hari ini. Banyak variabel yang belum terbukti, banyak implementasi yang masih menghadapi tantangan, dan banyak pertanyaan publik yang masih menunggu jawaban berupa hasil nyata.
Namun setidaknya, untuk pertama kalinya, publik mulai melihat bahwa di balik berbagai program yang sering diperdebatkan itu terdapat sebuah kerangka berpikir yang mencoba menghubungkan semuanya ke dalam satu tujuan besar: membangun Indonesia yang lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih siap menghadapi 2045.
Dan pemahaman itu sendiri sudah merupakan langkah penting dalam membangun diskusi publik yang lebih produktif tentang arah pembangunan Indonesia.
Sumber:
- Podcast Bukan Kaleng Kaleng. (2026). Wawancara dengan Dony Oskaria, COO dan Kepala BPI Danantara.
- World Bank. Inclusive Growth and the Middle Income Trap.
- International Energy Agency. Energy Security and Economic Resilience.
- The Lancet. Investment in Child Nutrition and Human Capital.
- Rodrik, Dani. (2011). The Globalization Paradox: Democracy and the Future of the World Economy.
Baca juga Mengapa Danantara Dibentuk? Dony Oskaria: Berawal dari Krakatau Steel





