Mengapa Danantara Dibentuk? Dony Oskaria: Berawal dari Krakatau Steel

COO Danantara Dony Oskaria podcast Bukan Kaleng-Kaleng ungkap alasan pembentukan Danantara Krakatau Steel 2026
Share this :

Danantara dibentuk bukan semata karena ambisi membangun lembaga investasi raksasa, melainkan berawal dari pelajaran pahit menyaksikan BUMN strategis Indonesia kehilangan daya saing satu per satu. Demikian penjelasan langka Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria yang mengungkap bahwa alasan utama pembentukan Danantara bermula dari pengalamannya langsung menangani kondisi Krakatau Steel yang jauh dari gambaran sebagai simbol industrialisasi nasional. Jawaban Dony Oskaria tentang Danantara ini mengubah framing dari sekadar debat super holding menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana Indonesia memastikan aset negara yang besar benar-benar menjadi mesin pembangunan.

Konteks Isu: Danantara di Mata Publik vs Penjelasan dari Dalam

Ketika pemerintah meluncurkan Danantara, perdebatan publik langsung mengarah pada satu hal: uang. Sebagian mempertanyakan besarnya aset yang akan dikelola, sebagian lagi mengkhawatirkan potensi intervensi politik terhadap perusahaan negara. Di media sosial, Danantara sering digambarkan sebagai super holding baru yang mengendalikan BUMN strategis Indonesia.

Namun dalam penampilan publiknya yang langka, COO Danantara Dony Oskaria memberikan penjelasan yang berbeda. Menurutnya, alasan utama pembentukan Danantara bukan bermula dari ambisi kelembagaan, melainkan dari pengalaman panjang menyaksikan bagaimana sejumlah BUMN strategis Indonesia mengalami kemunduran.

Krakatau Steel: Titik Awal yang Tidak Banyak Diketahui Publik

Cerita yang disampaikan Dony Oskaria tentang alasan pembentukan Danantara berangkat dari pengalaman yang tidak banyak diketahui publik. Ketika ditugaskan menangani Krakatau Steel beberapa tahun lalu, ia mengaku melihat langsung kondisi perusahaan yang jauh dari citranya sebagai simbol industrialisasi nasional.

Rumah dinas yang kosong, fasilitas produksi yang tidak beroperasi, blast furnace yang berhenti, pabrik yang terbakar, hingga jumlah karyawan yang menyusut drastis menjadi gambaran nyata bagaimana sebuah aset strategis negara dapat kehilangan daya saingnya. Pada saat yang sama, perusahaan menanggung beban utang yang sangat besar.

Bagi Dony, persoalannya bukan semata soal manajemen perusahaan. Masalah yang lebih besar adalah model pengelolaan BUMN yang selama puluhan tahun berjalan secara terpisah. Setiap perusahaan bergerak sendiri, mencari pendanaan sendiri, dan sering kali menghadapi tantangan yang sama tanpa koordinasi yang kuat di tingkat nasional. Akibatnya, banyak aset negara yang memiliki potensi besar justru berjalan di bawah kapasitas optimalnya.

Danantara sebagai Instrumen Konsolidasi Aset Negara

Logika di Balik Pembentukan Danantara

Jika selama ini publik melihat Danantara sebagai lembaga investasi, Dony Oskaria menggambarkannya sebagai instrumen untuk menyatukan kekuatan aset negara yang selama ini tersebar. Logikanya sederhana: Indonesia memiliki ratusan BUMN dengan aset ribuan triliun rupiah, namun aset besar tidak selalu berarti produktif. Dalam banyak kasus, aset tersebut justru menghasilkan imbal balik yang relatif rendah dibanding potensi yang dimiliki.

Menurut laporan OECD mengenai State Owned Enterprise Governance, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negara berkembang bukanlah kekurangan aset, melainkan rendahnya koordinasi dan efisiensi dalam pengelolaannya. Banyak perusahaan negara memiliki aset besar, tetapi gagal menciptakan nilai ekonomi maksimal karena berjalan secara terfragmentasi.

Preseden Global: Tiongkok, Singapura, dan Konsolidasi BUMN

Fenomena BUMN yang tidak terkoordinasi bukan hanya terjadi di Indonesia. Sebelum melakukan reformasi besar, sejumlah perusahaan milik negara di Tiongkok juga menghadapi masalah serupa. Pemerintah Tiongkok kemudian melakukan konsolidasi besar-besaran untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat tata kelola, dan meningkatkan daya saing global perusahaan negara.

Singapura membangun Temasek dengan filosofi yang serupa: memastikan aset negara dikelola secara profesional dan terintegrasi agar menghasilkan nilai yang lebih besar bagi masyarakat. Dalam kerangka komparatif ini, Danantara bukan inovasi tanpa preseden, melainkan upaya Indonesia untuk mengadopsi model yang sudah terbukti di negara lain.

Danantara dan Kebutuhan Investasi Indonesia Menuju 2045

Penjelasan Dony Oskaria tentang Danantara menjadi semakin relevan ketika Indonesia menghadapi kebutuhan investasi yang sangat besar menuju 2045. Pemerintah membutuhkan dana untuk membangun ketahanan pangan, energi, infrastruktur, hilirisasi industri, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurut berbagai studi World Bank dan Asian Development Bank, negara berkembang sering menghadapi kesenjangan pembiayaan pembangunan yang tidak mungkin dipenuhi hanya melalui APBN. Oleh karena itu, optimalisasi aset negara menjadi salah satu solusi yang semakin banyak digunakan di berbagai negara.

Dony menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya yang cukup besar untuk membiayai pembangunan. Persoalannya bukan semata kekurangan modal, tetapi bagaimana aset yang sudah dimiliki negara dapat dikelola dengan lebih produktif.

Tantangan Komunikasi: Dari Narasi Super Holding ke Narasi Pelajaran Sejarah

Yang paling menarik dari penjelasan Dony Oskaria adalah bahwa ia tidak berbicara tentang Danantara sebagai tujuan akhir. Ia justru berbicara mengenai bagaimana mencegah terulangnya kisah seperti Krakatau Steel. Baginya, kegagalan sebuah perusahaan negara bukan hanya soal kerugian bisnis, tetapi juga hilangnya kesempatan kerja, hilangnya kapasitas industri nasional, dan hilangnya kemampuan negara untuk bersaing dalam jangka panjang.

Tantangan komunikasi Danantara ke depan adalah memindahkan narasi publik dari debat super holding menuju pemahaman tentang mengapa konsolidasi aset negara dibutuhkan. Ketika publik memahami bahwa Danantara lahir dari pelajaran nyata seperti Krakatau Steel, perdebatan tentang kelembagaan akan bergeser menjadi diskusi yang lebih produktif tentang bagaimana memastikan model ini bekerja efektif.

Kesimpulan Analitis: Di Balik Danantara, Ada Pelajaran yang Tidak Ingin Terulang

Jika selama ini publik bertanya mengapa Danantara dibentuk, jawaban Dony Oskaria memberikan perspektif yang berbeda dari narasi yang selama ini beredar. Danantara dibentuk karena Indonesia tidak ingin terus-menerus menyaksikan aset strategis nasional kehilangan daya saing satu per satu. Danantara dibentuk karena pemerintah percaya bahwa aset negara yang besar seharusnya tidak hanya menjadi angka di laporan keuangan, tetapi menjadi mesin pembangunan yang mampu menciptakan nilai ekonomi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.

Apakah Danantara akan berhasil mewujudkan tujuan tersebut? Waktu yang akan menjawab. Namun dari penjelasan Dony Oskaria, satu hal menjadi lebih jelas: di balik pembentukan Danantara, terdapat pelajaran panjang dari pengalaman mengelola BUMN yang pernah jatuh, kehilangan arah, dan nyaris kehilangan masa depannya. Dan pelajaran itulah yang tampaknya ingin dihindari agar tidak terulang kembali.


Sumber:

  • Reportica Media Group. (2026). Podcast Bukan Kaleng Kaleng: Wawancara dengan Dony Oskaria, COO Danantara.
  • OECD. State Owned Enterprise Governance.
  • World Bank. Financing for Development: Closing the Investment Gap.
  • Asian Development Bank. Developing Asia’s Infrastructure Financing Needs.

Baca juga Masterplan Prabowo Menuju 2045: Pertama Kali Orang Dalam Istana Menjelaskannya