Prestasi pemerintah Prabowo tidak lagi otomatis menghasilkan kepercayaan publik di era digital. Dalam periode 11 hingga 17 Mei 2026, pemerintah bergerak agresif di banyak sektor sekaligus: hilirisasi nasional Rp116 triliun, audit MBG, intervensi potongan ojol, hingga penyitaan aset koruptor.

Namun berdasarkan laporan Monitoring Media Nasional Reportica Media Group, reach melonjak 676 persen sekaligus diikuti kenaikan negative mentions 57 persen, anger 14 persen, dan distrust 11 persen. Ini bukan tanda publik tidak peduli, melainkan tanda bahwa politik modern telah bergeser: pemerintah tidak hanya harus bekerja, tetapi juga harus memenangkan persepsi.
Konteks Isu: Ketika Kinerja dan Kepercayaan Tidak Lagi Berjalan Beriringan
Di masa lalu, pembangunan besar hampir selalu menghasilkan legitimasi politik. Jalan dibangun, harga stabil, proyek berjalan, maka kepercayaan publik ikut naik. Namun di era digital hari ini, hubungan itu tidak lagi sesederhana dulu.
Pemerintah bisa meluncurkan proyek triliunan rupiah, menyita aset koruptor, membangun program sosial nasional, bahkan mempercepat industrialisasi, tetapi kemarahan publik tetap bisa mendominasi percakapan. Fenomena inilah yang mulai terlihat dalam dinamika pemerintahan Prabowo pada pertengahan Mei 2026.
Dinamika Percakapan Publik: Exposure Tinggi, Apresiasi Tidak Otomatis
Berdasarkan laporan Monitoring Media Nasional periode 11 hingga 17 Mei 2026 yang diterbitkan Reportica Media Group, terjadi lonjakan exposure publik yang sangat besar dengan data sebagai berikut:
- Reach meningkat 676 persen dibanding minggu sebelumnya
- Negative mentions naik 57 persen
- Anger meningkat menjadi 14 persen
- Distrust bertahan di 11 persen
- Trust masih dominan di 28 persen
Data ini memperlihatkan sesuatu yang penting: publik tidak sedang tidak peduli. Mereka justru sangat memperhatikan. Namun perhatian tersebut tidak otomatis berubah menjadi apresiasi terhadap kinerja pemerintah.
Di sinilah perubahan besar dalam politik modern mulai terlihat. Prestasi pemerintah tidak lagi dinilai hanya dari hasil kerja, tetapi dari bagaimana kerja tersebut dipersepsikan, dikomunikasikan, dan dipertarungkan di ruang digital.
Analisis Sentimen: Era Ketidakpercayaan yang Diperkuat Algoritma
Platform X sebagai Barometer Kritik
Laporan Reportica mencatat bahwa platform X/Twitter menjadi ruang dengan dominasi sentimen negatif tertinggi dan berfungsi sebagai barometer kritik publik. Ruang digital tidak lagi sekadar tempat diskusi, tetapi telah berubah menjadi arena pembentukan realitas politik.
Fenomena ini sejalan dengan temuan Edelman Trust Barometer yang menunjukkan bahwa secara global, masyarakat semakin skeptis terhadap institusi formal, termasuk pemerintah, media, dan korporasi (Edelman, 2025). Publik tidak lagi otomatis percaya pada pencapaian yang diumumkan negara. Mereka cenderung mempertanyakan motif, efektivitas, bahkan keaslian keberhasilan tersebut.
Negativity Bias dan Attention Economy
Persepsi publik sering kali tidak dibentuk oleh data ekonomi atau laporan pembangunan, tetapi oleh emosi kolektif. Dalam teori behavioral economics, kondisi ini dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan manusia memberi perhatian lebih besar pada ancaman dibandingkan pencapaian positif (Kahneman, 2011).
Di era algoritma media sosial, bias ini bekerja semakin kuat karena platform digital secara alami mendorong konten yang memicu emosi tinggi. Akibatnya, politik modern tidak lagi hanya soal governance, tetapi juga soal attention economy.
Penelitian OECD mengenai komunikasi publik modern menjelaskan bahwa masyarakat digital cenderung lebih mudah merespons ancaman, kontroversi, dan kegagalan dibanding capaian yang bersifat administratif atau teknokratis (OECD, 2024). Dengan kata lain, kabar buruk menyebar lebih cepat daripada keberhasilan.
Prestasi Pemerintah Prabowo yang Kalah Cepat dari Skeptisisme Publik
Banyak program pemerintah Prabowo sebenarnya memiliki nilai politik yang kuat. Hilirisasi menjanjikan ratusan ribu lapangan kerja. Audit MBG menunjukkan upaya pengawasan internal yang proaktif. Penyitaan aset koruptor memberi simbol keberanian terhadap korupsi. Intervensi terhadap sistem ojol dipersepsikan sebagai keberpihakan kepada pekerja informal.
Namun di era sekarang, keberhasilan kebijakan sering kali kalah cepat dibanding skeptisisme publik yang bergerak di ruang digital. Itulah sebabnya mengapa satu komentar tentang dolar dapat memicu ledakan kritik nasional, sementara proyek investasi ratusan triliun justru tenggelam di tengah percakapan publik yang dipenuhi kecemasan ekonomi.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah menghadapi tantangan baru yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menjalankan program. Mereka harus memenangkan persepsi, bukan hanya menyelesaikan pekerjaan.
Tantangan Komunikasi: Narasi Sama Pentingnya dengan Kebijakan
Pemerintahan modern bekerja di era yang berbeda. Era di mana keberhasilan tidak lagi otomatis menghasilkan legitimasi. Era di mana publik ingin melihat bukan hanya hasil, tetapi juga transparansi, konsistensi, dan kedekatan emosional dengan realitas kehidupan mereka.
Kondisi ini tidak sepenuhnya unik di Indonesia. Di Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia, tingkat ketidakpercayaan publik terhadap institusi meningkat meskipun indikator ekonomi tidak selalu buruk. Sunstein mencatat bahwa media sosial telah menciptakan ruang di mana kelompok-kelompok dengan pandangan serupa saling memperkuat narasi mereka sendiri, mempersulit pemerintah untuk membangun narasi tunggal yang koheren (Sunstein, 2017).
Tantangan komunikasi pemerintah Prabowo bukan pada kekurangan program, melainkan pada kecepatan dan kedalaman narasi yang menjembatani kebijakan dengan kehidupan nyata masyarakat. Ketika kecemasan ekonomi mendominasi ruang publik, setiap kebijakan akan dibaca melalui lensa keresahan tersebut, bukan melalui lensa capaian teknis.
Kesimpulan Analitis: Negara Tidak Hanya Harus Bekerja, Tapi Juga Dipercaya
Tantangan terbesar pemerintahan Prabowo hari ini bukan hanya menjalankan program. Melainkan memastikan bahwa publik percaya program tersebut benar-benar bekerja untuk mereka.
Prestasi pemerintah Prabowo yang tidak lagi otomatis dipercaya bukan semata kegagalan komunikasi. Ia adalah cerminan dari perubahan struktural dalam cara masyarakat digital memproses informasi dan membangun kepercayaan terhadap kekuasaan.
Di era digital, keberhasilan tidak lagi hidup hanya di laporan kementerian atau konferensi pers. Ia hidup di persepsi publik, di media sosial, dan di ruang emosi kolektif masyarakat. Dan di ruang itulah, pemerintah modern sedang menghadapi ujian terbesarnya.
Sumber:
- Reportica Media Group. (2026). Monitoring Media Nasional 11–17 Mei 2026.
- Edelman. (2025). Edelman Trust Barometer Global Report.
- OECD. (2024). Public Communication and the Fight Against Misinformation.
- Kahneman, Daniel. (2011). Thinking, Fast and Slow.
- Sunstein, Cass R. (2017). #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media.
Baca juga Rupiah Melemah ke Rp17.600: Indonesia Membayar Harga Krisis Global atau Gagal Kelola Persepsi?





