Approval rating Prabowo turun dalam dua survei terakhir, namun data monitoring media Reportica justru menunjukkan trust tetap menjadi emosi publik terbesar di setiap periode pengamatan. Paradoks ini bukan kebetulan, melainkan cerminan dari dua hal yang berbeda: survei mengukur kepuasan terhadap kinerja, sementara data percakapan publik mengukur sesuatu yang lebih dalam, yaitu apakah masyarakat masih percaya bahwa perubahan mungkin terjadi.
Approval Rating Turun: Apa yang Diukur Survei dan Apa yang Tidak
Dua survei terakhir menunjukkan penurunan approval rating Prabowo yang cukup signifikan. Namun survei kepuasan biasanya mengukur satu pertanyaan spesifik: apakah kamu puas dengan kinerja presiden saat ini? Pertanyaan ini berbeda dengan pertanyaan yang dijawab oleh data monitoring media: bagaimana emosi publik terhadap presiden secara keseluruhan?
Seseorang bisa tidak puas dengan kecepatan kerja pemerintah, namun tetap percaya bahwa arahnya benar. Seseorang bisa mengkritik kebijakan tertentu, namun belum sampai pada kesimpulan bahwa pemerintah harus diganti. Inilah yang menjelaskan mengapa approval rating bisa turun sementara trust tetap dominan di angka 25-26 persen.
Pemerintah dan Gerindra Merespons Cepat: Survei Dijadikan Bahan Evaluasi
Yang membedakan respons pemerintahan Prabowo terhadap penurunan approval rating ini dari sekadar reaksi defensif adalah kecepatan dan keterbukaannya. Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyatakan bahwa Gerindra tengah mempelajari hasil survei SMRC maupun Indikator Politik Indonesia sebagai bahan evaluasi.
Yang penting dicatat, respons ini bukan kepanikan. Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menegaskan bahwa partai membaca angka survei secara jernih sebagai alarm pengingat dan aspirasi jujur dari masyarakat yang harus direspons dengan percepatan kinerja, bukan dengan kegelisahan politik.
Lebih jauh, Gerindra optimistis tingkat kepuasan masyarakat akan kembali meningkat seiring manfaat program-program pemerintah seperti MBG, penguatan ketahanan pangan, serta penataan ekonomi mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Dalam konteks analisis monitoring media Reportica, respons cepat dan terbuka seperti ini justru menjadi salah satu faktor yang dapat menjelaskan mengapa trust publik tetap bertahan meski approval rating turun. Masyarakat tampaknya masih melihat bahwa pemerintah mendengar, membaca sinyal publik, dan berkomitmen untuk mempercepat kinerja. Itu adalah modal kepercayaan yang berbeda dari sekadar angka kepuasan sesaat.
Konteks: Mengapa Satu Tahun Pertama Selalu Menjadi Ukuran yang Penting
Dalam tradisi demokrasi modern, satu tahun pertama pemerintahan sering disebut sebagai honeymoon period, fase ketika ekspektasi publik sedang tinggi dan kesediaan untuk memberi ruang kepada pemimpin baru masih besar. Namun satu tahun pertama Prabowo berlangsung dalam konteks yang tidak sederhana.
Tekanan geopolitik global dari perang Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, perang dagang Amerika Serikat dan China, hingga gejolak harga energi dan pangan dunia membentuk latar yang jauh dari kondusif. Di dalam negeri, ekspektasi yang tinggi pasca kemenangan Pilpres 2024 menciptakan tekanan tersendiri. Setiap kebijakan baru langsung dihadapkan pada pengawasan publik yang intensif.
Dalam konteks inilah penurunan approval rating dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026 berdasarkan survei SMRC perlu dibaca. Bukan semata sebagai rapor merah, melainkan sebagai cerminan dari beratnya tekanan yang sedang dihadapi sebuah pemerintahan yang baru memasuki tahun pertamanya.
Satu Tahun Prabowo dalam Data: Pola yang Konsisten
Selama hampir satu tahun Reportica memonitor percakapan publik mengenai pemerintahan Prabowo, satu pola yang paling konsisten muncul adalah paradoks trust dan kritik yang berjalan beriringan.
Trust Selalu Tertinggi, Kritik Selalu Ada
Di setiap periode monitoring sejak Oktober 2025 hingga Juni 2026, trust secara konsisten menjadi emosi publik terbesar dalam percakapan mengenai Presiden Prabowo, berkisar antara 25 hingga 29 persen dari keseluruhan emosi yang terdeteksi. Pada saat yang sama, anger dan distrust tidak pernah menghilang, dan dalam beberapa periode bahkan meningkat cukup signifikan.
Ini bukan kontradiksi. Ini adalah potret masyarakat yang masih percaya namun semakin kritis. Masyarakat yang memberikan kesempatan namun juga mulai menuntut pembuktian.
Isu yang Paling Banyak Memicu Percakapan Publik
Sepanjang satu tahun Prabowo, terdapat beberapa isu yang secara konsisten memicu lonjakan percakapan publik terbesar berdasarkan data Reportica:
- MBG dan Badan Gizi Nasional — dari perdebatan motor listrik, refocus program, audit korupsi, hingga skandal BGN
- Rupiah melemah — memicu lonjakan reach tertinggi dalam satu periode dengan kenaikan 676 persen
- BUMN tunggal ekspor komoditas — reach menembus 1,08 miliar dengan negative mentions naik 145 persen
- Diplomasi Prabowo — dari Rusia, Prancis, Korea Selatan, hingga KTT ASEAN dengan Maung
- WNI ditahan Israel di Gaza — memicu solidaritas nasional dengan reach 117 juta
- Hilirisasi nasional Cilacap — proyek Rp116 triliun dengan sentimen netral dominan
Capaian dan Tantangan: Satu Tahun dalam Perspektif Seimbang
Yang Berhasil Membangun Narasi Positif
Berdasarkan data monitoring media Reportica, beberapa momen yang berhasil menciptakan sentimen positif signifikan selama satu tahun pertama pemerintahan Prabowo antara lain adalah respons cepat dalam kasus BNI Gereja Katolik yang memicu apresiasi langka dari publik, kehadiran Maung di KTT ASEAN yang membangkitkan kebanggaan nasional, peresmian pabrik mobil listrik yang mendapat dukungan publik tinggi, diplomasi aktif yang secara konsisten menghasilkan narasi internasional positif, dan kebijakan potongan ojol 8 persen yang memicu trust tertinggi dalam satu periode dengan 37 persen sentimen positif.
Yang Masih Menjadi Tantangan
Pada saat yang sama, sejumlah isu secara konsisten menghasilkan sentimen negatif yang signifikan: skandal korupsi BGN yang mengikis kepercayaan terhadap program sosial terbesar pemerintah, pernyataan-pernyataan publik presiden yang sering memicu kontroversi lebih besar dari kebijakan itu sendiri, komunikasi kebijakan yang sering tertinggal dibanding kecepatan kritik di media sosial, dan expectation gap yang semakin melebar antara agenda jangka panjang pemerintah dan kebutuhan jangka pendek masyarakat.
Satu Tahun Prabowo dalam Perspektif Komparatif
Dalam perspektif yang lebih luas, dinamika yang dialami pemerintahan Prabowo di tahun pertama sebenarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya unik. Hampir setiap pemerintahan baru yang menjalankan agenda perubahan besar menghadapi pola yang serupa: ekspektasi tinggi di awal, tekanan meningkat di tengah jalan, dan pembuktian yang baru terlihat di kemudian hari.
Korea Selatan, Singapura, bahkan negara-negara maju seperti Jerman dan Prancis pernah mengalami fase ini ketika pemimpin baru mereka mencoba melakukan transformasi besar. Yang membedakan adalah kemampuan pemerintah untuk tetap konsisten pada arah kebijakan jangka panjang sambil merespons secara adaptif terhadap tekanan jangka pendek.
Rodrik dalam One Economics Many Recipes menjelaskan bahwa tidak ada resep tunggal untuk keberhasilan pembangunan, namun konsistensi institusional dan kemampuan beradaptasi adalah dua faktor yang paling sering ditemukan pada negara-negara yang berhasil melakukan transformasi ekonomi (Rodrik, 2007).
Apa yang Publik Sesungguhnya Inginkan: Membaca Data Secara Lebih Dalam
Jika satu hal yang paling konsisten muncul dari seluruh data monitoring media Reportica selama hampir satu tahun ini, adalah bahwa publik Indonesia tidak sedang menginginkan kesempurnaan. Mereka menginginkan kejujuran, konsistensi, dan bukti bahwa negara benar-benar bergerak ke arah yang lebih baik.
Ketika pemerintah merespons cepat dan transparan terhadap krisis seperti kasus BNI, kepercayaan naik. Ketika kebijakan seperti potongan ojol langsung menyentuh kehidupan nyata masyarakat, sentimen positif melonjak. Ketika skandal korupsi muncul tanpa respons yang jelas, distrust meningkat. Ketika komunikasi gagal menjelaskan tujuan jangka panjang sebuah kebijakan, anger bertahan lama.
Pola ini memberikan petunjuk yang cukup jelas tentang apa yang dibutuhkan dari pemerintah: bukan retorika yang lebih indah, melainkan tindakan yang lebih nyata dan komunikasi yang lebih jujur.
Tantangan Terbesar Tahun Kedua: Dari Janji Menuju Bukti
Jika tahun pertama pemerintahan Prabowo dapat disebut sebagai tahun membangun fondasi, maka tahun kedua akan menjadi tahun pembuktian. Berbagai program yang diluncurkan perlu mulai menunjukkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat secara lebih langsung.
MBG perlu memperlihatkan perbaikan tata kelola yang nyata pasca skandal BGN. Hilirisasi perlu mulai menghasilkan lapangan kerja yang konkret. Ketahanan pangan perlu terwujud dalam harga pangan yang lebih stabil. Dan diplomasi ekonomi perlu mulai mengalirkan investasi yang dapat dirasakan masyarakat luas.
Tanpa pembuktian tersebut, ekspektasi gap yang sudah ada berisiko berubah menjadi kekecewaan yang lebih dalam. Dan kekecewaan yang sudah mengakar jauh lebih sulit dipulihkan dibanding kritik yang masih menyimpan harapan.
Kesimpulan Analitis: Satu Tahun yang Belum Selesai
Satu tahun pemerintahan Prabowo belum memberikan jawaban definitif tentang ke mana Indonesia sedang menuju. Namun ia memberikan sesuatu yang sama pentingnya: data tentang bagaimana masyarakat Indonesia merespons perubahan, apa yang mereka percayai, apa yang mereka khawatirkan, dan apa yang mereka harapkan.
Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia adalah masyarakat yang masih memiliki harapan besar. Kritik yang keras adalah ekspresi dari harapan yang belum terpenuhi, bukan tanda keputusasaan. Trust yang bertahan adalah modal sosial yang belum habis.
Approval rating Prabowo turun bukan berarti kepercayaan hilang, melainkan sinyal bahwa ekspektasi publik sedang menuntut pembuktian yang lebih cepat.
Pertanyaannya bukan apakah satu tahun Prabowo berhasil atau gagal. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: apakah fondasi yang dibangun hari ini cukup kuat untuk menopang Indonesia menuju 2045?
Jawaban dari pertanyaan itu tidak akan ditemukan dalam satu tahun pertama. Ia akan ditemukan dalam perjalanan panjang yang masih jauh di depan.
Sumber:
- Reportica Media Group. (2025–2026). Monitoring Media Nasional Oktober 2025 – Juni 2026 (Seri Laporan).
- Rodrik, Dani. (2007). One Economics, Many Recipes: Globalization, Institutions and Economic Growth.
- World Bank. The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy.
- OECD. (2024). Government at a Glance.
- Edelman. (2026). Edelman Trust Barometer.
Baca juga Kepala BGN Baru Pasca Korupsi MBG: Apakah Pergantian Cukup untuk Memulihkan Kepercayaan?





