Diplomasi soft power Prabowo melalui wacana K-Pop dalam pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menjadi fenomena yang cepat menyebar di ruang publik pada periode 20 hingga 26 April 2026. Di balik antusiasme publik yang tercipta, data menunjukkan dominasi sentimen netral yang signifikan, mencerminkan bahwa perhatian sudah berhasil didapat namun makna strategisnya belum sepenuhnya terkunci di benak masyarakat.
Konteks Isu: Ketika K-Pop Masuk ke Ruang Diplomasi
Diplomasi biasanya berbicara dalam bahasa yang serius: energi, perdagangan, pertahanan, angka, kesepakatan, dan kepentingan negara. Namun dalam pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, ada satu elemen yang mengubah nada percakapan: K-Pop.

Reportica Media Grup
Isu Utama dalam Monitoring Media Nasional periode 20-26 April 2026
Di tengah diskusi kerja sama investasi dan hubungan bilateral, wacana konser K-Pop justru menjadi bagian yang paling cepat menyebar di ruang publik. Bagi sebagian orang, ini terasa tidak biasa. Bagi yang lain, ini justru menunjukkan bahwa diplomasi sedang berubah bentuk, dari pendekatan formal menjadi strategi yang menjangkau langsung ke sentimen masyarakat.
Dari Hard Power ke Soft Power: Landasan Konseptual
Dalam pendekatan klasik, diplomasi negara bertumpu pada hard power, yaitu kekuatan ekonomi dan militer yang menjadi dasar negosiasi antarnegara. Namun dalam dua dekade terakhir, lanskap tersebut mulai bergeser secara signifikan.
Joseph Nye menjelaskan bahwa pengaruh negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan keras, tetapi juga oleh kemampuan menarik dan memengaruhi melalui budaya, nilai, dan daya tarik (Nye, 2004). Konsep ini dikenal sebagai soft power.
Korea Selatan adalah contoh paling nyata dari strategi ini. Melalui K-Pop, drama, dan industri kreatif, negara tersebut berhasil membangun pengaruh global yang melampaui ukuran ekonominya. Budaya menjadi pintu masuk untuk hubungan ekonomi yang lebih luas. Dalam konteks ini, memasukkan K-Pop ke dalam diskusi diplomasi Indonesia-Korea Selatan bukan sesuatu yang acak. Ia adalah bahasa yang sudah terbukti bekerja.
Dinamika Percakapan Publik: Antusiasme, Netralitas, dan Perception Gap
Sentimen Netral Mendominasi Diskursus Diplomasi
Berdasarkan laporan Monitoring Media Nasional periode 20 hingga 26 April 2026 yang diterbitkan Reportica Media Group, diskursus terkait diplomasi soft power Prabowo menunjukkan dominasi sentimen netral dengan porsi yang signifikan, sementara sentimen positif dan negatif muncul dalam porsi yang lebih kecil namun tetap terasa.

Analisa Sentimen untuk Isu Hubungan Internasional | Media Monitoring Nasional Periode 20-26 April 2026
Pola ini menarik untuk dianalisis. Sentimen netral yang tinggi biasanya mencerminkan satu kondisi: publik memperhatikan, tetapi belum sepenuhnya mengambil posisi. Artinya, perhatian sudah tercipta, tetapi makna strategis belum sepenuhnya terkunci di benak masyarakat.
Perception Gap dalam Diplomasi Populer
Di sisi positif, elemen K-Pop berhasil membuka akses emosional yang membuat diplomasi terasa lebih dekat, terutama bagi kelompok muda. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan reflektif mengenai relevansi dan prioritas, terutama ketika dikaitkan dengan kondisi domestik yang sedang dihadapi masyarakat.
Di sinilah terbentuk apa yang dapat disebut sebagai perception gap. Bukan sekadar perbedaan antara yang mendukung dan yang menolak, melainkan antara publik yang melihat K-Pop dalam diplomasi sebagai strategi jangka panjang dan publik yang masih mencari keterkaitannya dengan realitas kehidupan saat ini.
Fenomena ini diperkuat oleh karakter percakapan digital, di mana isu yang mudah dipahami secara simbolik cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan substansi kebijakan yang lebih kompleks.
Diplomasi Soft Power Prabowo sebagai Strategi Publik ke Publik
Yang membedakan pendekatan ini adalah kedekatannya dengan masyarakat. Diplomasi sering kali terasa jauh, abstrak, dan sulit dipahami. Namun ketika elemen budaya populer masuk ke dalamnya, jarak tersebut menjadi lebih pendek.
K-Pop bukan hanya hiburan. Ia adalah pengalaman kolektif, terutama bagi generasi muda Indonesia. Dengan menjadikannya bagian dari narasi diplomasi, pemerintah secara tidak langsung mengubah cara kebijakan luar negeri dipersepsikan, dari sesuatu yang eksklusif menjadi sesuatu yang relatable dan terasa dekat.
Dalam banyak kasus, kedekatan persepsi ini menjadi kunci dalam membangun legitimasi publik terhadap kebijakan luar negeri. Namun pendekatan ini juga membawa risiko. Ketika elemen populer menjadi sorotan utama, ada kemungkinan substansi kebijakan justru tertutup oleh simbol. Perhatian publik terhadap konser K-Pop belum tentu berbanding lurus dengan pemahaman terhadap tujuan strategis yang lebih besar.
K-Pop sebagai Akselerator Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Korea Selatan
Di balik sorotan terhadap K-Pop, terdapat agenda ekonomi yang jauh lebih besar. Hubungan Indonesia dan Korea Selatan selama ini didominasi oleh kerja sama industri, mulai dari manufaktur hingga teknologi. Investasi Korea di Indonesia telah memainkan peran penting dalam pengembangan sektor otomotif dan elektronik.
Dalam konteks ini, budaya dapat berfungsi sebagai akselerator ekonomi. Penelitian menunjukkan bahwa negara yang memiliki daya tarik budaya yang kuat cenderung lebih mudah menarik investasi dan memperluas kerja sama ekonomi (Kim dan Jin, 2016). Dengan kata lain, soft power bukan pengganti hard power. Ia adalah pelengkap yang mempercepat.
Tantangan Komunikasi: Antara Perhatian dan Pemahaman Strategis
Gaya diplomasi yang terlihat dalam pertemuan Prabowo dan Lee Jae-myung mencerminkan pendekatan yang lebih fleksibel. Tidak hanya berbicara dalam bahasa negara ke negara, tetapi juga dalam bahasa publik ke publik.
Tantangan komunikasinya justru ada di sini. Perhatian publik sudah berhasil didapat melalui elemen K-Pop. Namun perhatian yang tercipta perlu diarahkan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang mengapa kerja sama Indonesia-Korea Selatan penting secara strategis, baik untuk investasi, teknologi, maupun posisi Indonesia di panggung regional.
Tanpa narasi lanjutan yang menjembatani antusiasme publik dengan substansi kebijakan, diplomasi soft power berisiko berhenti sebagai momen viral tanpa resonansi strategis jangka panjang.
Kesimpulan Analitis: Soft Power Butuh Lebih dari Sekadar Perhatian
Diplomasi soft power Prabowo melalui K-Pop dalam konteks hubungan Indonesia-Korea Selatan adalah langkah yang secara konseptual memiliki dasar yang kuat. Ia mencoba menjembatani dua dunia: global dan domestik, formal dan populer.
Namun pertanyaannya bukan apakah pendekatan ini benar atau salah. Pertanyaannya adalah apakah ia cukup kuat untuk membawa hasil yang lebih besar dari sekadar perhatian.
Dalam politik modern, persepsi publik telah menjadi bagian dari kekuatan diplomasi itu sendiri. Diplomasi hari ini tidak lagi hanya tentang meja perundingan. Ia juga tentang panggung, tentang bagaimana sebuah negara berbicara kepada masyarakatnya sendiri, bukan hanya kepada mitra internasionalnya.
Sumber:
- Reportica Media Group. (2026). Monitoring Media Nasional 20–26 April 2026.
- Nye, J. S. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics.
- Kim, Y., dan Jin, D. Y. (2016). The Korean Wave: Evolution, fandom, and transnationality.
Baca Juga Kasus BNI Gereja Katolik: Standar Baru Kepercayaan Publik





