Gejolak IHSG pada akhir Januari 2026 menjadi sorotan utama publik dan media nasional. Dalam waktu singkat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga lebih dari 10 persen dan memicu dua kali trading halt. Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada pasar saham, tetapi juga memengaruhi persepsi publik terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Berdasarkan hasil monitoring media nasional periode 26 Januari hingga 1 Februari 2026, isu IHSG menjadi salah satu topik ekonomi paling dominan yang dikaitkan dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
IHSG Anjlok dan Lonjakan Percakapan Publik
Puncak percakapan publik terkait IHSG terjadi pada 28 Januari 2026, bertepatan dengan fase terdalam penurunan indeks. Pada momen ini, IHSG menjadi pusat perhatian investor, pelaku pasar, media arus utama, dan netizen di media sosial.
Topik Huru-hara IHSG mencatat reach sekitar 96 juta dan menguasai 25,86 persen share of voice dalam keseluruhan percakapan tentang Presiden Prabowo. Angka ini menempatkan isu IHSG sebagai isu ekonomi paling dominan pada pekan tersebut.
Di ruang digital, IHSG tidak lagi dipandang sekadar indikator pasar, melainkan simbol kepercayaan publik terhadap tata kelola ekonomi dan pasar modal Indonesia.
Sentimen Publik terhadap Gejolak IHSG
Analisis sentimen menunjukkan bahwa mayoritas publik masih bersikap menunggu dan mengamati. Komposisi sentimen publik terhadap gejolak IHSG terbagi sebagai berikut:
- Sentimen netral: 61 persen
- Sentimen negatif: 22 persen
- Sentimen positif: 17 persen
Dominasi sentimen netral menandakan bahwa kepanikan belum sepenuhnya menguasai psikologi pasar. Namun, sentimen negatif tetap signifikan dan perlu dicermati karena berpotensi berkembang jika tidak dikelola dengan baik.

Narasi yang Menguat di Ruang Digital
Terdapat dua arus narasi besar yang berkembang seiring anjloknya IHSG.
Narasi kritik menempatkan IHSG sebagai cerminan lemahnya tata kelola pasar saham. Isu saham gorengan kembali mencuat, disertai kritik terhadap regulator pasar modal. Sebagian netizen juga mengaitkan penurunan IHSG dengan pelantikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, serta mengaitkannya dengan pelemahan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, muncul narasi penyeimbang yang menahan eskalasi sentimen negatif. Pemerintah menyampaikan komitmen untuk memberantas praktik saham gorengan dan memperbaiki tata kelola pasar modal. Mundurnya Ketua OJK dan Direktur Utama BEI dibaca sebagian publik sebagai langkah korektif dan sinyal keseriusan reformasi.
Klaster Percakapan Publik soal IHSG
Hasil monitoring mengidentifikasi empat klaster utama dalam percakapan publik terkait IHSG.
Pertama, klaster investor dan pasar modal, yang fokus pada trading halt, penurunan harga saham, dan kerugian investor ritel.
Kedua, klaster kritik pemerintah, yang menjadikan gejolak IHSG sebagai pintu masuk serangan politik terhadap pemerintah dan elite kekuasaan.
Ketiga, klaster regulator keuangan, yang menyoroti peran OJK, BEI, dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar.
Keempat, klaster optimisme pemulihan, yang menaruh harapan pada reformasi pasar modal dan kebijakan korektif untuk memulihkan kepercayaan investor.
Dinamika Emosi Publik dan Psikologi Pasar
Peta emosi publik menunjukkan dinamika psikologis pasar yang kompleks. Emosi muak dan kagum menjadi dua emosi paling dominan. Muak dipicu isu nepotisme, tata kelola pasar, dan saham gorengan. Sementara kagum muncul dari harapan terhadap reformasi, wacana reshuffle, dan langkah pembenahan institusional.
Emosi marah banyak muncul dari investor ritel yang terdampak langsung oleh trading halt dan penurunan IHSG. Di sisi lain, emosi bahagia tetap hadir meski terbatas, terutama setelah muncul kabar mundurnya pimpinan OJK dan BEI yang dianggap sebagai awal pembenahan.
Secara umum, emosi publik menunjukkan pasar berada dalam fase koreksi psikologis, bukan kepanikan total.
Kesimpulan
Gejolak IHSG akhir Januari 2026 menegaskan bahwa stabilitas pasar modal tidak hanya ditentukan oleh indikator ekonomi, tetapi juga oleh kepercayaan publik. IHSG telah berubah menjadi simbol persepsi publik terhadap tata kelola ekonomi nasional.
Meskipun sentimen negatif muncul cukup kuat, dominasi sentimen netral dan hadirnya narasi reformasi menunjukkan bahwa ruang pemulihan masih terbuka. Konsistensi komunikasi pemerintah, langkah korektif regulator, serta reformasi nyata di pasar modal akan menjadi faktor kunci dalam memulihkan kepercayaan investor dan publik dalam jangka menengah.





