Vietnam Melaju, Indonesia Kapan Maju? Menakar Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Bendera Indonesia dan Vietnam berdampingan, simbol pertanyaan Indonesia kapan maju
Share this :

Ada satu pertanyaan yang belakangan makin sering muncul di ruang publik: Vietnam sudah melaju, Indonesia kapan maju? Pertanyaan ini wajar, bahkan perlu, karena Vietnam memang sedang mencatat performa ekonomi yang mengesankan. Tapi membandingkan Indonesia dan Vietnam hanya dari angka pertumbuhan dua tahun terakhir berisiko membuat kita melihat pembangunan seperti perlombaan lari padahal membangun negara adalah pekerjaan yang membutuhkan konsistensi selama puluhan tahun.

Vietnam memang sedang berlari lebih cepat. Ekonominya tumbuh sekitar 8 persen pada 2025, dan World Bank memperkirakan pertumbuhan tetap kuat pada 2026, ditopang manufaktur, ekspor, investasi, dan integrasi ekonomi global. Indonesia sendiri tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025 dan mencatat pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angkanya memang tidak setinggi Vietnam, tapi menyebut Indonesia tidak bergerak sama sekali juga tidak sepenuhnya sesuai kenyataan.

Mengapa Kita Harus Berani Mengakui Vietnam Melaju Lebih Cepat?

Tidak ada gunanya menyangkal keberhasilan Vietnam. Justru negara yang serius ingin maju harus cukup percaya diri untuk melihat keberhasilan negara lain, mengakuinya, lalu bertanya apa yang bisa dipelajari. Vietnam membangun basis manufaktur dan ekspornya lewat perjalanan reformasi panjang sejak Đổi Mới pada 1986 bukan lewat satu kebijakan yang tiba-tiba mengubah perekonomiannya.

Karena itu, ketika Vietnam hari ini terlihat melaju, yang sebenarnya kita lihat adalah hasil akumulasi reformasi, investasi, pembangunan industri, dan integrasi perdagangan selama puluhan tahun. World Bank sendiri masih menempatkan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, penguatan perusahaan domestik, dan pengembangan teknologi sebagai pekerjaan rumah Vietnam berikutnya. Artinya, bahkan negara yang jadi contoh keberhasilan di kawasan pun belum selesai dengan tugasnya.

Indonesia perlu belajar dari fakta ini. Kita tidak perlu rendah diri hanya karena Vietnam mencatat pertumbuhan lebih tinggi, tapi juga tidak boleh menjadikan perbedaan struktur ekonomi sebagai alasan untuk berhenti berbenah. Keberhasilan Vietnam harus menjadi cermin, bukan ancaman dan bukan pula jawaban instan atas pertanyaan Indonesia kapan maju.

Masalah Indonesia Bukan Tidak Tumbuh, tapi Apakah Tumbuh Cukup Cepat?

Data ekonomi menunjukkan Indonesia tetap bergerak. Pertumbuhan 5,11 persen pada 2025 dan 5,61 persen pada kuartal I 2026 menandakan aktivitas ekonomi masih berkembang, dengan ekspor tetap menjadi salah satu penopang. Dalam salah satu laporan monitoring Reportica, angka 5,61 persen bahkan sempat menjadi narasi ekonomi positif yang mendapat perhatian publik karena muncul di tengah perlambatan sejumlah negara lain.

Tapi pertanyaan yang lebih sulit bukan apakah Indonesia tumbuh melainkan apakah pertumbuhan itu cukup cepat untuk mengubah kualitas hidup masyarakat dan membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah. Pertumbuhan yang hanya mengandalkan konsumsi tanpa peningkatan produktivitas tidak akan cukup; Indonesia membutuhkan lebih banyak pekerjaan berkualitas, industri bernilai tambah tinggi, inovasi, teknologi, dan sumber daya manusia yang mampu bersaing di pasar global.

Inilah mengapa perjalanan dua tahun pemerintahan tidak seharusnya dibaca sebagai rapor akhir. Dua tahun memang belum cukup untuk mengubah seluruh struktur ekonomi, tapi cukup untuk melihat apakah kebijakan yang dibangun mulai mengarah pada perubahan struktural atau sekadar mempertahankan pertumbuhan seperti biasa dan di sinilah jawaban atas Indonesia kapan maju mulai bisa dibaca arahnya, meski belum bisa dipastikan hasilnya.

Apa Kata Data Monitoring Reportica soal Persepsi Publik terhadap Dua Tahun Pemerintahan?

Monitoring Media Nasional Reportica memberi gambaran menarik soal persepsi publik terhadap perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo. Dalam laporan periode 3–9 Agustus 2026, sentimen positif terhadap Presiden berada di angka 31 persen, lebih tinggi dari sentimen negatif sebesar 26 persen, sementara percakapan netral tetap menjadi porsi terbesar. Reportica juga mencatat sentimen positif meningkat dibanding periode sebelumnya menunjukkan momentum apresiasi yang tetap bertahan di tengah kritik yang belum hilang.

Trust dan Joy Masih Dominan, tapi Bukan Berarti Puas

Yang lebih menarik justru terlihat dari analisis emosinya. Trust berada di sekitar 30,7 persen dan Joy 25,7 persen, sehingga kedua emosi ini secara gabungan berada di atas separuh distribusi emosi publik. Namun pada saat yang sama, Anger masih di sekitar 11,9 persen dan Distrust tetap muncul sehingga data ini tidak bisa dibaca sebagai tanda masyarakat sudah sepenuhnya puas terhadap pemerintah.

Justru di situlah gambaran publik yang lebih realistis. Masyarakat masih memberikan kepercayaan, tapi tetap mengawasi; masih punya optimisme, tapi tetap menuntut hasil. Kepercayaan publik bukan cek kosong, melainkan kesempatan bagi pemerintah untuk membuktikan bahwa arah pembangunan yang dipilih benar-benar menghasilkan perubahan.

Indonesia Tidak Kekurangan Potensi yang Dipertaruhkan Adalah Eksekusinya

Indonesia punya modal besar untuk mengejar negara-negara yang hari ini terlihat lebih cepat: pasar domestik besar, sumber daya alam melimpah, posisi geografis strategis, dan penduduk usia produktif yang jumlahnya tidak dimiliki semua negara. Tapi semua itu baru jadi keunggulan kalau mampu diterjemahkan menjadi produktivitas, investasi, teknologi, industri bernilai tambah, dan lapangan kerja yang lebih baik.

Di sinilah agenda hilirisasi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, penguatan pangan dan energi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi penting. Reportica sendiri mencatat agenda ekonomi pemerintah banyak diarahkan pada industrialisasi, kolaborasi pemerintah-swasta, hilirisasi, investasi, dan perluasan akses perdagangan. Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar memperkenalkan program, tapi memastikan program itu menghasilkan efek yang terasa sampai ke masyarakat.

Sebab negara tidak menjadi maju karena memiliki banyak program. Negara menjadi maju ketika program-programnya berhasil meningkatkan produktivitas masyarakat secara konsisten.

Vietnam Tidak Menunggu, dan Itu Justru Pelajaran Penting untuk Indonesia

Vietnam memberi pelajaran penting: negara tidak boleh menunggu negara lain berhenti berlari sebelum mulai memperbaiki diri. Ketika Vietnam memperluas basis manufakturnya, Indonesia harus memperkuat industrinya; ketika Vietnam menarik investasi teknologi, Indonesia harus memastikan investasinya menghasilkan transfer pengetahuan; ketika Vietnam meningkatkan kualitas tenaga kerja, Indonesia harus memastikan bonus demografi tidak berubah jadi bonus pengangguran.

Persaingan regional seharusnya tidak dipandang sebagai permainan zero-sum. Kemajuan Vietnam tidak membuat Indonesia lebih miskin. Sebaliknya, keberhasilan Vietnam menunjukkan bahwa negara berkembang di Asia Tenggara memang punya ruang untuk melakukan lompatan ekonomi jika reformasi dilakukan secara konsisten.

Jadi, Indonesia Kapan Maju? Jawabannya Ada di Kerja Kolektif

Pertanyaan “Indonesia kapan maju?” tidak seharusnya hanya diarahkan ke pemerintah. Pemerintah memang punya tanggung jawab besar untuk menciptakan kepastian kebijakan, memperbaiki birokrasi, menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat pendidikan, dan memastikan investasi menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat. Tapi pembangunan nasional tidak pernah dikerjakan pemerintah sendirian.

Ada petani yang menjaga produksi pangan, buruh yang memastikan pabrik terus berjalan, guru yang mendidik generasi berikutnya, peneliti yang mengembangkan teknologi, pengusaha kecil yang mempertahankan bisnisnya, dan anak muda yang setiap hari belajar keterampilan baru agar tidak tertinggal. Mereka mungkin tidak muncul dalam headline pertumbuhan ekonomi, tapi merekalah yang sesungguhnya menjalankan ekonomi Indonesia setiap hari.

Dua tahun pemerintahan terlalu singkat untuk mengubah seluruh struktur ekonomi Indonesia, tapi cukup panjang untuk menunjukkan arah. Data menunjukkan ada pertumbuhan yang tetap terjaga, sentimen positif yang meningkat, serta Trust yang masih jadi salah satu emosi dominan. Tapi kritik, kemarahan, dan ketidakpercayaan juga masih ada mengingatkan bahwa pekerjaan rumah pemerintah belum selesai.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi “Vietnam sudah maju, Indonesia kapan?” Pertanyaan yang lebih penting: apa yang harus dilakukan hari ini agar dua puluh tahun dari sekarang, Indonesia tidak lagi bertanya kapan ia maju?

Indonesia tidak perlu mengejar Vietnam dengan rasa iri. Indonesia perlu mengejar masa depannya sendiri dengan rasa percaya diri sebab kemajuan sebuah bangsa bukan milik satu presiden, satu kabinet, atau satu generasi, melainkan hasil dari jutaan orang yang setiap hari memilih untuk tetap bekerja, belajar, dan percaya bahwa negeri ini bisa menjadi lebih baik.


Referensi

  • Reportica Media Group. (2026). Monitoring Media Nasional 3–9 Agustus 2026.
  • Reportica Media Group. (2026). Monitoring Media Nasional 9–15 Februari 2026.
  • Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Data pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 dan kuartal I 2026.
  • World Bank. (2026). Viet Nam Economic Update.
  • World Bank. (2025). Viet Nam 2035: Toward Prosperity, Creativity, Equity, and Democracy.
  • OECD. Economic Outlook for Southeast Asia, China and India.

Baca juga Krisis Ekonomi Indonesia 2026: Mana Fakta, Mana Ketakutan Jelang HUT RI ke-81